Di sebuah ruang kelas sekolah dasar yang hangat, suara Bu Hetty masih terngiang jelas. Saat itu, Facebook sedang berada di puncak popularitasnya. Kami, anak-anak yang haus akan pengakuan dunia luar, berebut ingin membuat akun. Namun, Bu Hetty berdiri di depan kelas dengan raut serius, memberikan sebuah mandat sederhana namun absolut: “Jangan bohong.” Beliau menasihati kami untuk tidak menyentuh media sosial itu karena untuk mendaftar, kami harus memalsukan tanggal lahir—sebuah kebohongan administratif yang dianggap sepele oleh dunia, namun dipandang sebagai retakan moral oleh Bu Hetty.
Dahulu, saya mungkin menganggapnya sebagai kekhawatiran yang berlebihan. Namun, setelah dewasa dan menyaksikan bagaimana dunia bekerja, saya menyadari bahwa nasihat itu bukanlah sekadar “saran” orang tua yang kolot. Itu adalah sebuah peringatan dini tentang kehancuran struktural peradaban yang dimulai dari satu klik kebohongan.
Dari Data Palsu Menuju Distopia Sosial
Kebohongan tentang usia di akun media sosial adalah “dosa asal” dalam ekosistem digital kita. Saat kita memulainya dengan menipu algoritma, kita sebenarnya sedang membangun identitas di atas fondasi pasir. Media sosial kini telah menjelma menjadi entitas yang destruktif bagi masyarakat. Ia bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan mesin amplifikasi kebohongan.
Kejujuran yang dulu menjadi komoditas dasar hubungan manusia kini tergerus oleh curated reality. Kita tidak hanya memalsukan data lahir, tapi juga memalsukan kebahagiaan, opini, dan eksistensi. Akibatnya, kebohongan ini tidak lagi bersifat personal, melainkan sistemik. Masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara yang hakiki dan yang ilusi.
Hukum Tuhan: Bukan Sekadar Saran, Melainkan Fondasi Realitas
Dalam melihat perspektif ini, seringkali kita salah menempatkan Al-Qur’an dan Hadis hanya sebagai “nasehat bijak” atau “saran moral” yang opsional. Padahal, bagi jiwa yang menyadari kedalaman maknanya, perintah-perintah tersebut adalah hukum alam yang bersifat mutlak.
Ambil contoh larangan mengenai “gambar” atau representasi visual yang dalam esensi teologisnya sering dikaitkan dengan upaya “menyaingi” Sang Pencipta. Namun, jika kita melihat lebih jauh, ini adalah peringatan tentang bahaya ketika manusia mencoba menciptakan realitas buatan (simulacra) yang akhirnya justru membelenggu mereka sendiri. Ketika hamba-hamba-Nya mulai bertarung demi citra, demi representasi yang semu, maka segala sesuatunya akan binasa. Perang ego di media sosial, disinformasi visual, hingga manipulasi AI adalah bentuk modern dari “perang antar budak” yang merusak tatanan penciptaan.
Kiamat Kepercayaan: Jurang Pengetahuan dan Pilihan Child-Free
Interpretasi terhadap tanda-tanda akhir zaman juga perlu diperluas melampaui makna harfiah. Hadis tentang anak yang memperlakukan orang tuanya seperti “tuan” (anak durhaka) dapat dibaca melalui lensa sosiologi teknologi kontemporer. Saat ini, terjadi knowledge gap yang sangat ekstrem antara generasi tua dan muda akibat percepatan teknologi.
Anak-anak tumbuh dengan pengetahuan teknis yang melampaui pemahaman orang tua mereka, menciptakan posisi tawar yang timpang. Ketika orang tua tidak lagi mampu menjadi “jangkar” kebenaran karena tertinggal oleh arus informasi digital, maka hancurlah otoritas dan rasa hormat. Hubungan yang paling sakral—orang tua dan anak—menjadi rapuh.
Ketidakpercayaan (distrust) ini merembet ke segala arah. Masyarakat tidak lagi percaya pada tetangganya, rakyat tidak percaya pada pemerintah, dan individu tidak percaya pada sistem ekonomi dan keuangan global yang dianggap sebagai skema spekulasi raksasa. Inilah yang melahirkan fenomena child-free. Keputusan untuk tidak memiliki anak bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan manifestasi dari rasa putus asa terhadap masa depan. Mengapa harus menghadirkan jiwa baru ke dalam dunia di mana kepercayaan telah mati dan hubungan antarmanusia telah hancur oleh kebohongan sistemik?
Penutup
Pesan Bu Hetty di masa SD itu kini terdengar seperti nubuat yang sangat relevan. “Jangan bohong” bukan hanya tentang moralitas individu, melainkan tentang menjaga satu-satunya lem yang merekatkan masyarakat: Kepercayaan.
Tanpa kejujuran, teknologi hanya akan menjadi alat penghancur massal bagi kewarasan kolektif. Kita harus mulai memandang nilai-nilai spiritual bukan sebagai nasehat masa lalu, melainkan sebagai hukum besi yang jika dilanggar, akan meruntuhkan atap peradaban di atas kepala kita sendiri. Mungkin sudah saatnya kita berhenti memalsukan tanggal lahir—dan identitas kita—untuk sekadar diterima di dunia semu, dan mulai kembali pada kebenaran yang nyata.