sedikit menangis saat melihat betapa hidupnya masa kecil. di gang DS dalam saat itu, belum ada terdapat penamaan jalan DS dalam III. dikala aku punya teman hindu (adi yang rumahnya di samping kiriku) diantara kami berempat yang muslim (iyas yang rumahnya di depan rumahku, ica dan nazla kakak adik di samping kanan rumahku), adi kadang dikucilkan oleh kami. entahlah di saat itu aku merasa bersalah mengikuti mereka tapi terkadang aku hanya menuruti apa yang teman kecilku yang lain lakukan. ejekan hitam dan berbeda kadang kali muncul dalam mulut anak kecil. saat kami bermain di rumah iyas, kami menyembunyikan sandal depan rumah dan tidak mengajak adi, entahlah apa apa alasannya. adi ‘nyamper’ ke rumah-rumah tapi kami pura-pura tidak menyahut dan tertawa2. saat itu mungkin tidak ada rasa salah dalam diriku, tapi saat menonton film ini aku tiba-tiba mengingatnya, dan barangkali semua teman-temanku gang ku juga melupakan kejadian saat itu. karena secara pribadi aku memiliki tendensi untuk melebih lebihkan sesuatu. aku pikir bahasa ada untuk membuat sesuatu yang tidak begitu berarti menjadi sesuatu yang dapat diceritakan dan dimaknakan, kuakui bahwa kata-kata dan bahasa adalah salah satu begundal yang diciptakan manusia. adi terkadang mengikuti ritual-ritual muslim, misalnya saat idul fitri ia kadang ke masjid dan berpura-pura mengikuti solat, dan saya yakin ia tetap tumbuh menjadi bahagia hingga saat ini.

aku sedikit menangis saat menonton mungkin aku mengingat masa kecilku yang begitu bahagia penuh tawa, dan aku pikir saat ini menurutku itu bukanlah bahagia, melainkan kepolosan semata dan memori pun menyamarkan banyak kenangan buruk menjadi nostalgia. dari na willa yang dikucilkan ‘cino asu’ hanya karena berbeda, aku teringat novel “how do you live” yang di film kan oleh ghibli. salah satu yang dibahas di novel tersebut adalah bagaimana peristiwa pembullyian berlangsung.

bagi saya hidup ini hanyalah pembullyian semata dalam berbagai skala. jika anda punya anak, anak anda hanya bisa memilih ketiga ini: menjadi pembully, yang dibully, atau yang diam saja ketika ada yang dibully. dan setiap orang seringkali pernah merasakan ketiganya, dan yang paling beruntung adalah yang hanya merasakan diam saja saat ada yang dibully karena bersifat ignorant. pembully an itu tidak hanya sebatas hubungan sosial manusia, melainkan pembullyian mayoritas terhadap minoritas, pejabat inkompeten terhadap masyarakat rentan, eksploitasi para pemodal terhadap karyawan dan lingkungan, atau yang mikroskopis seperti virus / patogen dengan sel inang, atau level alam seperti bencana alam terhadap manusia, bahkan hingga level semesta, seperti bintang yang membully dengan cara memancarkan energi yang sangat besar atau menarik berbagai planet agar tetap di jalurnya. dan dapat disimpulkan bahwa itu semua hanyalah proses alami seperti evolusi biologis.

dan saat saya mencoba merasionalisasi alasan saya menangis saat menonton film ini adalah, mungkin saya mendambakan sesuatu hal yaitu kembali kepada anak kecil, yaitu level terakhir dari metamorfosis jiwa seperti yang diomongkan nietzsche. kembali pada keignoranan. untuk mengabaikan semua hal yang saling berperang, dengan berfokus pada penciptaan nilai melalui permainan, kepolosan dan afirmasi terhadap hidup. tapi sayangnya hal itu hanya bisa dicapai dalam dunia abstrak. barangkali saya ingin seperti anak kecil yang lain juga, memegang kendali untuk menghancurkan atau meniadakan sesuatu yang disukainya. dan saya ingin meniadakan kelemahan saya, kelemahan karena diam saja melihat berbagai macam ketidakadilan yang ada. ingin menghancurkan segala yang membuat saya tidak memproses seperti layaknya anak kecil yang mengafirmasi segala hal tentang kehidupan, seperti mengekspresikan keluhan tentang betapa menjengkelkannya menonton film yang ditujukan untuk semua umur tapi rasanya sangat membosankan dan terlalu memaksakan untuk menjadi ceria dan bahagia, apalagi ada adegan horror yang tidak ramah bagi penyandang tripophobia di adegan mata ikan bandeng.


Na Willa